Jumat, 01 Februari 2013

laparatomi


LAPARATOMI

Pengertian
Pembedahan perut sampai dengan  membuka selaput perut .
Ada 4 cara, yaitu;
1.      Midline incision
2.      Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3.      Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4.      Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.

Indikasi
1.      Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2.      Peritonitis
3.      Perdarahan saluran pencernaan.
4.      Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5.      Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).

pERAWATAN PRE OPERATIF
PENGKAJIAN
Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative :
·         Umur
·         Alergi terhadap obat, makanan
·         Pengalaman pembedahan
·         Pengalaman anestesi
·         Tembakau, alcohol, obat-obatan
·         Lingkungan
·         Kemampuan self care
·         Support system

PEMERIKSAAN FISIK

·         Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :
·         Menentukan data dasar
·         Masalah pengobatan yang tersembunyi
·         Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi
·         Potensial komplikasi post op.

Fokus : Riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.

System kardiovaskuler
Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.
Perubahan jantung à 39 % kematian perioperatif.

Sistem pernapasan
Lansia, smoker, PPOM à resiko atelektasis, kolap jaringan paru.
à Mencegah pertukaran oksigen/CO2
à Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.
à Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru à efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun.

Renal system
Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi
Skopolamin, morphin  à konfusi disorientasi

Neuorologi system :
Kemampuan ambulasi, dan reflek, serta aktivitas lainya.

Muskulussceletal
Deformitas  à mempengaruhi posisi intra dan post-operasi
Artritis à menerima posisi à nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi
Kekuatan, tonus otot.

Status Nutrisi
Malnutrisi, obesitas à resiko tinggi pembedahan
Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.
Obesitas à wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi

Psikososial asesment
Tujuan : menentukan kemampuan coping
               Informasi
               Support

Laboratorium
Analisis:
  1. Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
  2. Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op


Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )
Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op
              Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op

Intervensi
Fokus              : Edukasi pre-operasi
Informasi         : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice.

Informed Consent :
-          alasan pembedahan
-           pilhan dan resikonya
-          resiko pembedahan
-          resiko anestesi

Pembatasan diit à NPO (nothing per oral )à 6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi :
-          mencegah perlukaan colon
-          melihat jelas area
-          mengurangi bacteri intestinal

Skin preparasi
Tube, drain, Intra  Venous  line
Post – op  exercise :
-          diaphragmatic breating
-          incestive spirometri
-          cougling and spinting the surgical wound
-          turning and leg exercise

Kecemasan :
Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat
Intervensi :
-          preoperatip teaching
-          comunikatip
-          rest.

inTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF

Anggota tim pembedahan

Tim pembedahan terdiri dari :
·         Ahli bedah
·         Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi.
·         Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
·         Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.
·         Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan.
·         Circulating Nurse
·         Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.
Tugas :    
-        Set up ruangan operasi
-        Menjaga kebutuhan alat
-        Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
-        Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.
-        Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.

Selama pembedahan :
-          Mengkoordinasikan aktivitas
-          Mengimplementasikan NCP
-          Membenatu anesthetic
-          Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.

·         Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

Penyiapan kamar dan team pembedahan.

Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan infeksi.
1). Lay Out pembedahan.
Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik).
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi à design (protektif, bersih, steril dan kotor).
Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Umumnya :
·         Kamar terima
·         Ruang untuk peralatan bersih dan kotor.
·         Ruang linen bersih.
·         Ruang ganti
·         Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat.
·         Scrub area.
Ruang operasi terdiri dari :
·         Stretcher atau meja operasi.
·         Lampu operasi.
·         Anesthesia station.
·         Meja dan standar instrumen.
·         Peralatan suction.
·         System komunikasi.

2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.
Sumber utama kontaminasi bakteri à team pembedahan yang hygiene ¯ dan kesehatan ¯ ( kulit, rambut, saluran pernafasan).

Pencegahan kontaminasi :
·         Cuci tangan.
·         Handscoen.
·         Mandi.
·         Perhiasan (-) cincin, jam tangan, gelang.

3). Pakaian bedah.
Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan: Menurunkan kontaminasi.

4). Surgical Scrub.
Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
·         Ahli Bedah
·         Semua asisten
·         Scrub nurse.
à sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril.

Alat-alat:
·         Sikat cucin tangan reuable / disposible.
·         Anti microbial : betadine.
·         Pembersih / pemotong  kuku.
à Waktu : 5 – 10 menit à dikeringkan dengan handuk steril.

Anasthesia.


Anasthesia (Bahasa Yunani) à Negatif Sensation.
Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran.
Tujuan: Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot.
Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien.

Type anasthesia:

Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.

1. Anasthesia Umum.

Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.
      Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.

Stadium Anesthesia.
-          Stadium I   : Relaksasi
Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahab.
-          Stadium II  : Excitement.
Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggota badan tidak teratur.
-          Stadium III : Ansethesi pembedahan..
Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.
-          Stadium IV : Bahaya.
Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.

Metode Pemberian
Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal

Inhalasi
Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru.
Obat anesthesia inhalasi yang diberikan :
Gas: Nitrous Axida ( N20).
Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan pemulihan yang cepat.
Jenis yang biasa dipakai;
a.         Folatile:
b.         Halotan :
c.         Ethrane.
d.        Penthrane.
e.         Forane.

Anesthesi Injeksi IV.
Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. Jenis  opbat yamng biasa dipakai;
Ø  Barbiturat.
Ø  Narcotik:
Ø  Inovar
Ø  Ketamine
Ø   Neuromusculer Brochler.  

Anestesi Local Atau Regional

Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus. 

Teknik pemberian.
Anestesi Topikal
Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi
Bentuk: Salep atau spray.

Lokal Anestesi
Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi.

Field Block
Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi
( hernioraphy , dental prosedur ,bedah plstik )

Nerve Block
Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor, sympatis.

Spinal Anestesi / Intra Techal
Dicapai dengan injecsi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid.
Pada L 2 – 3 atau L 3 – 4.

PENGKAJIAN :
Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:
-          Memvalidasi identitas klien.
-          Memvalidasi inform concent.

Chart Review.
-          Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan.
-          Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi.

Perawat menanyakan.:
-            Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah.
-            Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
-            Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.
-            Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas.
-            à Kateterisasi.


DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1.         Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.
2.         Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
3.         Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan anesthesia
4.         Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama pembedahan.

PERENCANAAN
Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif.
Tujuan : Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan dan bebas dari perlukaan peralatan operasi.

INTERVENSI:
-          Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat.
-          Positioning à posisi yang tepat.
Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang minimal, proteksi struktur tulang dan neuromusculair, penggunaan dan lokasi IV line, cara anesthesia, keamanan dan keselamatan klien.
-          Penggunaan peralatan elektrik. Lempeng grounding yang ditutupi jeli tidak menekan tubuh.
-          Chek hati-hati alat / electrosurgical à mencegah luka bakar.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal.

Intervensi:
-          Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering.
-          Penutupan kulit:
-          Tujuan:
-          Menutup lumen pembuluh darah.
-          Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh.
-          Mencegah kontaminasi luka.

Dua factor yang menentukan kekuatan penutupan luka :
-          Materi jahitan.
Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan kedalaman luka, usia dan riwayat medik klien.
-          Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis.
Benang jahit : Absorbable dan non absorbable.
Ukuran benang : 0.-5, 2 – 0 –11- 0.

INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.
PENGKAJIAN;
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat  klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi.

Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik

System Pernafasan.
Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
-          Potency jalan nafas, à meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
-          Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR  < 10 X / menit à depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal à gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.
-          Auscultasi paru à keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.
-          Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal à efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.
Thorax Drain.

Sistem Cardiovasculer.
Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.
Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung à depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi.
Nadi meningkat à shock, nyeri, hypothermia.
Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas).
Homan’s saign à trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri).

Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit
-          Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.
-          Ukur cairan à NG tube, out put urine, drainage luka.
-          Kaji intake / out put.
-           Monitor cairan intravena dan tekanan darah.

Sistem Persyarafan.
-          Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran à semua klien dengan anesthesia umum.
-          Klien dengan bedah kepala leher : à respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum à depresi fungsi motor.

Sistem Perkemihan.
-          Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.
      Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi à retensio urine.
Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusià abdomen bawah (distensi buli-buli).
-          Dower catheter à kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml / jam à komplikasi ginjal.

Sistem Gastrointestinal.
-          Mual muntah à 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.
-          Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
-          Kaji paralitic ileus à suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.
-          jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.
-          Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.
·         Meningkatkan istirahat.
·         Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
·         Memonitor perdarahan.
·         Mencegah obstruksi usus.
·         Irigasi atau pemberian obat.

Sistem Integumen.
-                Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.
-                Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu tahun.
-                Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan :
·         Infeksi luka.
·         Diostensi dari udema / palitik ileus.
·         Tekanan pada daerah luka.
·         Dehiscence.
·         Eviscerasi.

Drain dan Balutan
Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.

Pengkajian Nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative.
Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika.

Pemeriksaan Laboratorium.
Dilakukan untuk memonitor komplikasi .
Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1.         Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.
2.         Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.
3.         Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
4.         Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.
5.         Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.
6.         Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi.
7.         Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan immobilisasi.

PERENCANAAN
  1. Gangguan pertukaran gas
Tujuan :
Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.
Intervensi :
-          Posistioning klien untuk mencegah aspirasi
-          Insersi mayo à mencegah obstruksi, melakukan suction.
-          Pemberian aksigen
-          Endotracheal tube/mayo dilepas à refleks gag kembali
-          Dorong batuk dan bernapas dalam 5 – 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial komplikasi :atelektasis, pneumonia).
-          Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.
-          Suction.

  1. Gangguan integritas kulit
Tujuan :
-          luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif.

Penyebab luka infeksi :
-          kontaminasi selama pembedahan
-          infeksi preoperative
-          teknik aseptic yang terputus
-          status klien yang jelek.
Intervensi :
-          Terapi obat :
­  antibiotik profilaksis spectrum luas (24 – 72 jam post op)
­  perawatan luka dengan gaas antibiotik.
-          Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari.
-          Drain :
­  evakuasi cairan dan udara
­  mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah.

  1. Nyeri
Tujuan             : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi.
Intervensi        :
-    Terapi obat :
·               Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik à nyeri akut (meperidin hydroclorida, morphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.)
·               Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat.
·               Pada pembedahan yang luas à kontrol nyeri à iv pump.
·               Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah à komplikasi narkotik).

Metode pangendalian nyeri yang lain :
    1. positioning
    2. perubahan posisi tiap 2 jam
    3. masase

EVALUASI :
Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah :
1.         Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih.
2.         Mengikuti diet TKTP
3.         menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain.
4.         Penyembuhan komplit tanpa komplikasi
5.         Mengungkapkan nyeri hilang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.

TINJAUAN KASUS.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN “Y” DENGAN LAPARATOMI
DI OK GBPT RSUD  DR SOETOMO SURABAYA.

Nama pasien
Umur
Agama
Suku / bangsa
Pekerjaan
Dagnosa medis
Jenis Operasi
No Regester
Dikaji tanggal / jam
Nama Mahasiswa
N I M
: An Y.
: 13 tahun.
: Islam
:Jawa / Imdonesia
: Pelajar SLTP.
: Tumor Ovarium.
: Laparatomi.
: 10148754.
: 16 April 2002, / 08.00.
: Siswanto ( PSIK FK Unair, angkatan III )
: 010030199-B.

Alasan di rawat :Untuk mengelurakan / mengambil massa yang ada di dalam perut, sehubungan dengan pembesaran pada perut, adanya ascites dan sesak nafas.
 Keluhahan yang dirasakan sebelumnya: Pasien merasakan perutnya membesar sejak 1,5 bulan yang lalu, perut terasa sebah dan sesak nafas.
Anak tidak memakai alat bantu apapun pada semua indranya.
Keadaan umum Pasien :Anak tampak kurus dan lemah, dalam usia 13 tahun berat badan 36 kg.
Viyal Sign:
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu
: 100 / 60 mmHg, dilengan kiri.
: 92 X  menit , teratur.
: 24 X / menit , sesak nafas / ascites.
: 36, 5 o C, di axilla.
Pernafasan lewat hidung, tampak adanya retraksi dada, bentuk dada simetris, tidak ditemukan adanya kelaian suara nafas, wheesing, Rales, dll.
Cardio vaskuler / sirkulasi Tidak diketemukan kelainan, seperti nyeri dada,  suara jantung normal, Oedema diketemukan di perut ( bukan dari cardiovasculair).
Persyarafan : keadaan pasien composmentis. GCS “ 4 – 5 – 6 “ totalnya : 15.
Keadaan sclera : putih, Conjunctiva sedikit anemis.
Sistem perkemihan: Pasien dapat kencing spontan, warna kekuningan bau khas.
Sistem Gasro intestinal: Bibir / mulut kering, Abdomen membesdar, bising usus (+) dan menurun,  terlihat vena membayang dididnding perut. Pasien puasa sejak jam 22.00 BBWI.
Tulang dan otot : pergerakan bebas/ biasa, ektremitas atas dan bawah kecil/ kurus, tidak ditekemukan kelaianan, turgor jelek, tonus otot lembek ( sukar dideteksi)
Sistem Edokrin. Tidak ditemukan riwayat Diabetus myeletus dan riawayat hypertensi. Anak belum pernah menstruasi, buah dada belum terbentuk / datar.
Sosial / interaksi. Anak komunikatif dengan perawat, mengadakan ontak mata, anak ditungguni orang tua diluar.
Spiritual : anak beragama Islam, percaya akan bantuan tuhan, dalam proses penyembuhannya.
Pemeriksaan Laboratorium :
BUN
Craeatin
Leukosist
Trombosit
SGOT
SGPT
: 5
: 0,6
: 7.000
: 597.000
: 23
: 21.
Albumin
RFT
Hb
PCV
SGP
2 JPP
: 2, 87.
: 11,6 / 11,6
: 13,7
: 42,8
: 77
: 118.

Asuhan Keperawatan selama di kamar operasi dan di RR.

Prae operasi : 
S :
O :
A :
P :
Mengatakan siap operasi, sakit, jangan ditusuk (infuus).
Pandangan menerawang, menangis.
Cemas sehubungan dengan pembedahan.
¨      Jelakan prosedur pembedahan yang kan dilakukan, tidak akan terasa sakit, rasa sakit diluka akan terasa setelah selesai operasi.
¨      Meminta pasien selalu istiqfar, meyebut nama Allah.
¨      Memberikan uspan (touch0) ketangan anak.
¨      Menutup / menghalangi pandangan anak saat dilakukan infuus.
¨      Memberikan komunikasi terapeutik. 


Durante operasi:
S :
O :

A :
P :









S :
O :
A :
P :






S ;
O :
A :
P :

- .
¨      Incisi / pembukaan perut.perdarahan suction / perut 6.500 ml.
¨      Intake oral (-) / puasa.
Gangguan keseimbangan cairan.
¨      Lanjutkan pemberian cairan RL, untuk dua slang / tangan kanan dan kiri.
¨      Kolaborasi pemberian darah tranfusi 2 kolf.
¨      Observasi Vital sain: Tekanan darah, nadi, respirasi, suhu.
¨      Palapasi daerahakral pasien.
¨      Awasi jumlah cairan yang keluar ( drain / suction ), dan yang masuk (infuus).
¨      Observasi membran mukosa.

-
Terpasang plat, untuk cauter/ ches.
Resiko cidera / luka bakar sehubungan dengan pemasangan plat.
¨      Pasang plat dengan benar dan tepat, di bawah paha / tempat yang cukup ototnya.
¨      Awasi posisi / ketetapatan posisi plat.
¨      Awasi jangan sampai basah.
¨      Pengaturan posisi dan fiksasi yang benar.
¨      Pemberian pbat anastesi yang tepat.

-.
Pembukan perut.
Penggunaan bermacam instrumen dan alat lainya ( Kassa).
¨      Resiko terjadinya koprpus alienum.
¨      Hiting dengan benar jumlah semua kebutuhan dan instrumen yang digunakan dalam pembedahan.
¨      Awasi selalu proses pembedahan dan penggunaan alatnya.
¨      Koreksi dengan teliti pengambilan / pengembalian alat yang telah digunakan selama proses pembedahan.
¨      Cek kembali alat / instrumen dengan teliti setelah selesai pembedadan.

Post operasi : 
S :
O :
A :

P :






S :
O :

A :

P :






S :
O :

A :

P :

-.
Kesadaran menurun / belum pulih.
Resiko inefektif jalan nafas sehubungan dengan reflek menelan, batuk, dan lidah yang tidak terkontrol.
¨      Berikan posisi ekstensi.
¨      Insersi mayo / gudel untuk mencegah obstruksi / untuk suction kalau perlu.
¨      Berikan oksigen kalau perlu.
¨      Mayo dilepas setelah refleks gag kembali.
¨      Ajarkan nafas dalam dan batuk efektif setelah sadar.

Mengeluh sakit, perih.
¨      Luka incisi, jahitan  (+)
¨      Drain (+) (+).
Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) sehubungan dengan adanya luka incisi.
¨      Kaji lokasi, type dan derajat nyeri.
¨      Jelaskan tentang nyeri dan proses lukanya.
¨      Berikan stimulasi / relaksasi / distraksi untuk mengurangi / mengalihkan rasa nyeri à masage.
¨      Berikan posisi yang enak bagi pasien, ganti posisi setiap dua jam.
¨      Observasi vital signs., kesadaran pasien.
¨      Kolaborasi pemberian analgetika.

Mengeluh sakit, perih.
¨      Luka incisi, jahitan  (+)
¨      Drain (+) (+).
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan ditandai dengan adanya luka incisi/ jahitan / drainage.
¨      Lakukan perawatan luka secara aseptik.
¨      Buka balutan / verband setelah 3 hari, ganti bgaian luarnya saja kalau perlu, atau kalau kotor . basah sekali.
¨      Awasi jumlah, bentuk / karakteristik cairan yang keluar melalui drainage.
¨      Evakuasi udara / darah yang ada dalam drainage.
¨      Kolaborasi pemberian antibiotika spectrum luas.

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ( KMB ) PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ( KMB )
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
I.                   Diagnosa Medik     :  Fraktur Femur
II.                Defenisi
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang normal yang terjadi karena adanya tekanan yang besar, dimana tulang tidak dapat menahan tekanan tersebut dan disertai dengan perlukaan jaringan sekitarnya (Brunner dan Suddarth).

Fraktur femur adalah terputusnya kontuinitas pada tulang paha sebagai akibat sebuah cedera (Hinchliff, 2005)
III.             Etiologi
Tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan, fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu :
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
   Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak serta kerusakan pada kulit.
2. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
3.  Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
 Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal bila tulang tersebut lunak      (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
IV.             Manifestasi klinis
1.      Nyeri 
Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma, hal ini dikarenakan adanya spasme otot tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
2.      Bengkak atau edema
 Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada     daerah fraktur dan extravasi daerah jaringan sekitarnya.
3.      Memar atau ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah dijaringan sekitarnya.
4.      Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
5.      Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot, paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
6.      Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan ysng terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
7.      Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan.
8.      Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang keposisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
9.      Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan yang hebat.
(Brunner dan Suddarth, 2001)
V.                Klasifikasi fraktur
1.      Patah tulang tertutup (patah tulang simplek)
Yaitu tulang yang patah tidak tampak dari luar, tulang keluar merobek daging sekitarnya. Keadaan ini berhadapan dengan kerusakan jaringan lunak yang lebih pasif, komplikasi kecacatan lebih besar dan komplikasi infeksi lebih tinggi.
2.      Patah tulang terbuka (patah tulang majemuk)
Yaitu tulang yang patah tampak dari luar karena telah menembus kulit dan mengalami robekan. Patah tulang terbuka lebih mudah terinfeksi.
3.      Patah tulang kompresi (patah tulang karena penekanan)
Merupakan akibat dari tenaga yang menggerakan sebuah tulang melawan tulang lainnya atau tenaga yang menekan melawan panjangnya tulang. Sering terjadi pada wanita usia lanjut yang tulang belakangnya menjadi rapuh karena osteoporosis.
4.      Patah tulang karena tergilas
Yaitu tenaga yang sangat hebat menyebabkan beberapa retakan sehingga terjadi beberapa pecahan tulang. Jika aliran darah kebagian tulang yang terkena mengalami gangguan maka penyembuhannya akan berjalan sangat lambat.
5.      Patah tulang avulsi
Disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat, sehingga menarik bagian tulang tempat tendon otot tersebut melekat. Paling sering terjadi pada bahu dan lutut, tetapi bisa juga terjadi pada tungkai dan tumit.
6.      Patah tulang patologis
Terjadi jika sebuah tumor (biasanya kanker) telah tumbuh kedalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh dan dapat mengalami patah tulang meskipun denga cedea ringan atau bahkan tanpa cedera sama sekali (Brunner danSuddarth, 2001)
VI.              Penatalaksanaan
Tindakan penanganan fraktur dibedakan berdasarkan bentuk dan lokasi patah serta usia. Berikut ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan awal untuk menangani penderita fraktur :
1.      Kenali ciri awal patah tulang dengan memperhatikan riwayat trauma yang terjadi karena benturan, terjatuh, atau tertimpa benda keras yang menjadi alasan kuat pasien fraktur.
2.      Jika ditemukan luka yang terbuka, bersihkan dengan antiseptic dan usahakan untuk menghentikan perdarahan dengan dibebat dan ditekan menggunakan perban atau kain bersih.
3.      Lakukan reposisi (pengembalian tulang yang berubah keposisi semula), namun hal ini tidak boleh dilakukan secara paksa dan sebaiknya dilakukan oleh para ahli atau yang sudah biasa melakukannya.
4.      Pertahankan daerah patah tulang dengan menggunakan bidai atau papan dari kedua sisi tulang yang patah unutk menyangga agar posisinya tetap stabil.
5.      Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri (Mansjoer, 1999)
VII.           Komplikasi
1.       Malunion (tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya)
2.       Delayed union ( proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan   kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
3.    Non union (tulang yang tidak menyambung kembali)
4.    Kekakuan sendi atau kontraktur, Tromboemboli syndrome
5.    Atrofi otot, Infeksi dan terjadinya dekubitus (Mansjoer, 1999)
VIII.       Pemeriksaan penunjang
1.         Pemeriksaan foto radiologi dari faktur untuk menentukan lokasi dan luasnya
2.         Pemeriksaan jumlah darah lengkap
3.         Artography
4.         Arthroscopy
5.         Lamnograph
6.         Bone scanning
7.         MRI
8.         Arthrocentesis (Brunner dan Sudarth, 2001)
IX.             Asuhan keperawatan
1.      Pengkajian
a.    Aktivitas atau istirahat
Tanda: kehilangan fungsi pada bagian yang terkena keterbatasan mobilitas.
b.   Sirkulasi
Tanda: hipertensi (kadang terlihat sebagai respon nyeri atau ansietas), hipotensi (respon terhadap kehilangan darah), Tachikardi, penurunan nadi pada bagian distal yang cidera cailary refil melambat, pucat pada bagian yang terkena masa hematoma pada sisi cedera.
c.    Neurosensori
Tanda: kesemutan, deformitas, krepitasi, pemendekan kelemahan, agitasi
d.   Kenyamanan
Tanda: nyeri tiba-tiba saat cidera spasme atau kram otot
e.    Keamanan laserasi kulit
Tanda: perdarahan, perubahan warna dan pembengkakan local (Doenges,1999)
2.      Diagnosa dan Intervensi
a.    Nyeri b/d terputusnya kontuinitas jaringan kulit, spasme otot, gerakan fragmen tulang.
Intervensi:
1)      Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
Rasional: menghilangkan nyeri dan mencegah asalahan posisi tulang.
2)      Tinggikan  dan dukung ekstremitas yang terkena
Rasional: meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
3)      Tinggikan penggunaan sprei, pertrahankan linen terbuka padda ibu jari kaki
Rasional: mempertahankan kehangatan tubuh .
4)       Evaluasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi, karakteristik, intensitas
Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi
5)      Dorong klien mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera
Rasional: membantu dan menurunkan ancietas
6)      Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif dan aktif
Rasional: mempertahankan kekuatan/ mobilitas otot yang sakit dan mempermudah resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera
7)      Berikan alternative kenyamanan, seperti pijatan, perubahan posisi
Rasional: meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan local dan kelelahan otot
8)      Dorong penggunaan tehnik manajemen stress seperti tehnik nafas dalam, sentuhan teraupetik, imajinasi visualisasi
Rasional: meningkatkan rasa nyaman dan dapat meningkatkan koping
9)      Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasanya atau tiba-tiba
Rasional: dapat menandakan adanya komplikasi
10)  Kolaborasi: Pemberian analgesic
Rasional; menurunkan nyeri
b.   Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler
Intervensi
1)      Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan
Rasinal: mengetahi keterbatasan fisik klien
2)      Bantu dalam rentang gerak pasif dan aktif
Rasional: meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot
3)      Dorong penggunaan latihan mulai dari tungkai yang sakit
Rasional: kontraksi otot tanpa menekul sendi atau menggerakkan tungkai dan mempertahankan kekuatan masa otot.
4)      Berikan papan kaki, bebat pergelangan tangan yang sesuai
Rasional: berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstremitas
5)      Letakkan dalam posisi telentang secara periodic bila mungkin , bila traksi digunakan untuk menstabilitaskan fraktur tungkai bawah.
Rasional: menurunkan resiko kontrakturfleksi panggul
6)      Bantu mobilisasi dengan kursi roda
Rasional: mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah  baring
7)      Awasi tanda-tanda vital
Rasional: hipotensi postural adalah masalah umum yamg menyertai tirah baring lama dan harus memerlukan intervensi
8)      Ubah posisi secara periodic dan dorong untuk nafas dalam
Rasional: mencegah/ menurunkan komplikasi
9)      Auskultasi bising usus
Rasional: tirah baring,penggunaan analgesic dapat memperlambat peristaltic usus
c.    Kerusakan integritas kulit b/d fraktur terbuka, terputusnya kontuinitas jaringan kulit.
Intervensi
1)      Kaji kerusakan kulit
Rasional: memberikan informasi tentang sirkulasi kulit
2)      Massase penonjolan tulang
Rasional: menurunkan tekanan pada area luka
3)      Penggunaan gips kering dan perawatan kulit
Rasional: mencegah penambahan kerusakan kulit
4)      Traksi kulit dan perawatan kulit
Rasional: mencegah kontaminasi pada luka
       (Doenges, 1999)
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. (2001). Keperawatan medical bedah. Jakarta. EGC
Doenges, M. E. (1999). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC
Hinchliff. (2005). Kamus Keperawatan. Jakarta: EGC
Mansjoer.(1999). Kapita selekta kedokeran. Jakarta: EGC

Selasa, 23 Oktober 2012

RESUME KEPERAWATAN ANAK


RESUME KEPERAWATAN ANAK



Nama Pasien               : Ade Diroh
Umur                           : 7 Tahun

Jenis Kelamin              : Perempuan

Tanggal Masuk            : 11 Januari 2012

Keluhan Utama           : Bengkak pada rahang bagian bawah

Diagnosa Medis          : Anemia Aplastik & Infiltrat Sub Mandibula

Klien sudah dirawat selama 18 hari dengan keluhan pada saat masuk rumah sakit adalah bengkak pada rahang bagian bawah. Berat badan saat masuk adalah 18 kg dan berat badan terakhir saat ditimbang adalah 15,5 kg. Klien tampak lemah, sudah tidak terpasang infus lagi. Nafsu makan os mulai meningkat, tetapi proses menelan masih belum maksimal karena masih terasa sakit. Kebersihan gigi dan mulut kurang, sudah dikonsulkan ke poliklinik gigi dan mulut dan diberikan obat kumur untuk menangani masalah kebersihan gigi dan mulut. Orangtua os merencanakan pulang paksa esok hari karena merasa sudah tidak mampu lagi membiayai dana perawatan (keluarga termasuk ekonomi kurang). Keluarga berjanji akan merawat anaknya dengan baik dan akan menepati jadwal rawat jalan yang ditentukan.

Keadaan kesehatan saat ini
Diagnosa Medis          : Anemia Aplastik & Kolesistitis
Tindakan operasi         : (-)
Status nutrisi               : Makanan oral bubur sumsum 3 x 300 kalori per hari, porsi habis. Makanan cair 6 x 100 kalori
Status cairan                : Intake 1100 cc, balance – 325 cc, diuresis 2,5 cc/kg/jam.
Obat-obatan                : Vancomycin 3 x 300 mg IV, Deksamethason 3 x 5 mg, Lesikol 3 x 15 mg, Asam uriodeosikolat 3 x 75 mg, Ca Zandos 4 x 250 mg, Betadine kumur
Aktifitas                      : Bedrest & Isolasi
Tindakan                     : Rencana deksamethason tapp.of 2 x 5 mg, jaga higiene mulut dan kulit, Db + slide.

Pemeriksaan fisik
Keadaaan umum         : Klien tampak lemah, kesadaran compos mentis
Berat badan                 : 15,5 kg
Lingkar kepala            : 49 cm
Kulit                            : Kuning pucat
Tengkuk                      : Kaku kuduk (-)
Mata                            : Conjunctiva masih pucat, sklera ikterik berkurang
Telinga                        : Sekret -/-
Mulut                          : Kotor, susah saat menelan
Dada                           : Simetris, tulang rusuk menonjol
Paru-paru                     : Suara paru vesikuler, Ronchi –
Jantung                        : BJ I & BJ II (+)
Perut                            : Kembung, peristaltik (+), BAB teratur 1 x sehari dengan konsistensi lembek
Punggung                    : (n), Allergi (-)
Genitalia                      : Tidak dikaji
Ektremitas                   : Oedema (-), pada tangan kiri terdapat phlebitis dengan nyeri
Tanda vital                  : Suhu 36,5 C, Nadi 104 x / menit, Nafas 30 x / menit, tekanan darah 100/60 mm Hg

Pemeriksaan diagnostik
Hb 11,4 g/DL, eritrosit 3,84 juta, Leukosit 12.200, Trombosit 366.000

Masalah keperawatan yang muncul :
1.      Resiko tinggi infeksi
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
3.      Intoleransi aktivitas
4.      Resiko tinggi infeksi
5.      Kurang pengetahuan keluarga

Rencana keperawatan sama seperti minggu lalu, tetapi direncanakan keperawatan untuk masalah keperawatan no. 5 yaitu kurang pengetahuan keluarga karena pasien akan pulang paksa dengan kondisi sakit anak yang kronis.

Diagnosa Keperawatan :
Kurang pengetahuan keluarga tentang perawatan di rumah berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan, kondisi kelemahan anak, lingkungan yang kurang menunjang.

Intervensi :
·         Kaji ekpressi verbal dan non verbal, perasaan dan penggunaan koping mekanisme. Data tersebut diperlukan untuk membantu perawat untuk membangun koping yang konstruktif pada keluarga
·         Anjurkan orangtua mengungkapkan perasaannya tentang keadaan sakit anaknya, perawatan yang lama, dan prosedur yang dilakukan pada anaknya. Verbalisasi membantu mempertahankan rasa percaya, menurunkan tingkat kecemasan orangtua dan meningkatkan keterlibatan orangtua
·         Berikan informasi yang konsisten dan akurat tetang kondisi dan perkembangan anaknya, perawatan di masa yang akan datang. Informasi akan menurunkan kecemasan terhadap keadaan anaknya.
·         Informasikan kepada orangtua tentang kebutuhan setelah pulang dan intruksikan prosedur yang penting saat di rumah seperti :
-          Kondisi kelemahan anak yang mudah tertular penyakit
-          Hindarkan anak dari kelelahan saat bermain
-          Hindarkan paparan infeksi dari teman atau anggota keluarga yang menderita penyakit menular
-          Tanda-tanda yang membutuhkan pertolongan segera (sesak nafas, ekimosis, ikterik, nafsu makan berkurang)
-          Anjuran untuk rawat jalan secara teratur
-          Manipulasi lingkungan sehingga mendukung kondisi anak
-          Tetap memberikan anak untuk bermain sesuai dengan kemampuannya dengan pengawasan yang adekuat


Implementasi terlampir.